Belajar dari Pengalaman Vikarius
Beberapa hari belakangan ini, saya seperti dihadapkan dengan beberapa peristiwa yang berkaitan dengan komunikasi interpersonal dan dampaknya pada kehidupan. Lebih tepatnya, saya seolah tersadar bahwa komunikasi interpersonal yang baik memiliki dampak yang sangat luar biasa dalam kehidupan. Mengingat naluriah manusia yang merupakan makhluk sosial, komunikasi interpersonal juga memegang peran yang bisa dibilang salah satu kompetensi paling krusial untuk menunjang kehidupan manusia.
Saya bercengkrama dengan beberapa teman di dunia maya. Ada yang melalui pesan singkat ada juga yang melalui perantara gim daring. Semua pengalaman yang mereka berikan sangatlah berharga bagi saya karena dengan mendengarkan pengalaman mereka saya bisa memahami bagaimana manusia berinteraksi dan bertahan hidup, terutama di era modern ini.
Saya membagi tulisan ini kedalam beberapa bagian. Setiap bagian mengandung pengalaman dari satu teman.
Pengalaman pertama yang saya angkat berasaal dari teman saya yang terlibat dalam proyek sensus ekonomi penduduk pada 2026. Menurut saya, pengalaman ini sangat menarik baik dilihat dari sisi teori maupun praktiknya. Mari sebut teman saya ini dengan nama samaran “Vikta”.
Vikta adalah seorang yang giat bekerja dan supel. Semua pekerjaan yang dia dapatkan pasti diselesaikan dengan tepat dan elegan. Vikta juga suka tantangan baru ketika bekerja, mencari peluang belajar disela-sela pekerjaan, bahkan belajar dari pekerjaan yang beliau sering kerjakan. Pada Juni 2026, Vikta terlibat dalam suatu proyek pemerintah untuk melakukan sensus ekonomi penduduk Indonesia.
Dalam proyek sensus ekonomi penduduk Indonesia 2026, Vikta diberi tugas untuk melakukan sensus di kelurahan tempat ia tinggal. Beberapa saat sebelum proyek itu resmi dimulai, Vikta berdiskusi dengan saya tentang proyek tersebut serta bagaimana cara untuk melakukan pekerjaan sensus tersebut. Vikta terkadang khawatir soal proyek ini lantaran jumlah penduduk yang harus ia sensus tidaklah sedikit. Tidak luput juga kekhawatiran soal karirnya kedepan. Vikta memiliki cita-cita untuk menjadi Widyaiswara di lembaga pemerintahan melalui CPNS, dan Vikta belum dapat menghubungkan koneksi antara proyek sensus ini dengan cita-citanya. Di sini lah kami berdiskusi tentang proyek yang Vikta akan laksanakan.
Kami mengawali diskusi dengan menelaah keuntungan yang didapat dari proyek sensus tersebut. Proyek sensus ini intinya ada pada pengambilan data penduduk. Sangat erat kaitannya dengan penelitian. Saya menggarisbawahi bahwa proses pengambilan data pada proyek ini mungkin akan berbeda dengan pengambilan data pada tugas akhir Sarjana atau Magister, yang mana kami sudah pernah mengalami dan menyelesaikan keduanya. Mengingat proyek ini memiliki tenggat waktu selama kurang lebih satu bulan dan 15 hari, saya menawarkan metoda pengambilan rute optimal kepada Vikta dengan mengutip sebuah video dari Veritasium tentang Bagaimana Navigasi Google Maps Bisa Sangat Cepat. Saya pun belum selesai menonton video tersebut pada saat merekomendasikannya ke Vikta, namun saya pada saat itu percaya bahwa pengambilan rute yang optimal bisa membantu Vikta menyelesaikan tugasnya dengan lebih efektif dan efisien.
Setelah itu, kami pun lanjut berdiskusi tentang bagaimana proyek sensus ini berkaitan dengan cita-citanya. Pada awalnya Vikta belum bisa menarik garis korelasi antara proyek ini dengan cita-citanya, lalu saya bersikeras bahwa keduanya memiliki kaitan yang erat namun memang agak tak kasat mata. Pada pasalnya, variabel yang akan diambil oleh Vikta sangatlah sensitif karena mengait finansial keluarga. Informasi yang sangat, sangat sensitif yang kalau sampai jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab bisa menjatuhkan orang tersebut atau orang lain. Saya menjelaskan bahwa di situ lah kemampuan komunikasi interpersonal diasah.
Argumen saya yaitu: sebagai petugas sensus ekonomi penduduk, keterampilan persuasi sangat dibutuhkan untuk membujuk lawan bicara memberikan informasi yang dibutuhkan. Saya spesifik menekankan pada aspek persuasi karena komunikasi dengan pendekatan tersebut mengharuskan rasa kepercayaan diantara petugas sensus dan penduduk untuk muncul terlebih dahulu sebelum penduduk bersedia untuk memberikan informasi sensitif. Tidak lupa juga saya sampaikan bahwa: beda orang, beda cara komunikasinya. Saya kemudian mengambil dua variabel ini (persuasi dan keunikan orang) dan menghubungkannya dengan pekerjaan Widyaiswara.
Pekerjaan Widyaiswara biasanya memberikan pelatihan kepada ASN (Aparatur Sipil Negara) tentang berbagai hal tergantung dari ranah yang digeluti. Dua unsur penting yang tidak bisa dilepaskan dari “memberikan pelatihan” adalah public speaking dan kepercayaan. Menurut pengalaman saya, keduanya cenderung tidak memiliki hirarki tentang apa yang harus dibangung terlebih dahulu karena di beberapa kasus, kepercayaan harus dibangun terlebih dahulu tapi di kasus lain public speaking bisa memunculkan kepercayaan. Intinya, seorang Widyaiswara sepatutnya bisa merangkul, menarik perhatian, dan menyampaikan/melatih orang lain.
Ada juga bahasan tentang teknik pengambilan data. Vikta bingung dan khawatir dengan potensi dimana penduduk tidak bersedia memberikan informasi yang akurat dan apa adanya. Hal ini memang wajar muncul karena pada pasalnya data sensitif memang sulit untuk didapatkan, dan kalau pun berhasil didapatkan tanggung jawab yang melekat pada data tersebut bisa menjadi beban siapapun yang memilikinya. Terlebih muncul wacana bahwa warga yang ada di kelurahannya menyerukan warga lain untuk menyembunyikan aset yang dimiliki. Hal ini lantas membuat Vikta semakin khawatir tentang kualitas data yang nanti ia ambil. Dari persoalan ini, saya menyarankan untuk menggunakan teknik spesifik yang menyerupai statistik inferensial.
Saya menawarkan ide ke Vikta bahwa jika penduduk memberikan informasi yang “tidak apa adanya”, ia bisa menggunakan teknik inferensi. Intinya, daripada menanyakan pertanyaan secara gablang dan _to-the-point_kepada penduduk, tanyakan pertanyaan lain yang mengandung jawaban dari pertanyaan awal. Contohnya seperti ini:
Walau contoh pertanyaan di atas masih terlalu direct, tapi gagasan yang ingin saya sampaikan adalah jika tidak memungkinkan untuk mengambil 1 biji dari buah yang ada di suatu pohon, maka ambil saja pohon nya secara utuh niscara mendapat biji, buah, bunga, dan lain-lain. “Sekali mendayung, dua pulau terlewati” atau “Two birds with one stone.”
Beberapa waktu setelah itu, Vikta mulai melaksanakan proyek sensus. Ia berangkat dari satu rumah ke rumah lain di kelurahannya, mengambil data. Tak lama, saya menanyakan ke Vikta soal kesan melaksanakan proyek sensus itu. Ketika mendapat cerita pengalamannya, saya tercengang dengan apa yang dialami Vikta. Ia menjelaskan bahwa ada teknik komunikasi tertentu yang bisa membantu dia dalam mengambil data sensitif dari penduduk. Alih-alih melontarkan pertanyaan secara eksplisit, Vikta menanyakan pertanyaan yang “selangkah-dua langkah kedepan”. Salah satu contoh yang ia berikan adalah sebagai berikut:
Vikta: “Pajak motor ayeuna mah awis nya, pak/bu?” Penduduk: “Puguhan neng, gaduh motor ge da kosong geuning”
Yang intinya, Vikta mencoba untuk mengambil data tentang jumlah motor yang dimiliki seorang penduduk dengan cara melontarkan pertanyaan konfirmasi “Biaya pajak motor saat ini naik dari yang sebelumnya”, yang mana dibalas oleh penduduk tersebut “Iya, ini juga saya punya motor tapi pajaknya kok kosong.”
Potongan pengalaman Vikta ini tidak hanya mengonfirmasi teori linguistik tapi juga menambah wawasan saya tentang komunikasi interpersonal. Saya menyikapi pengalamn Vikta dari sisi linguistik dan juga sosial secara bersamaan, bahwa apa yang kita ingin dapatkan dari orang lain mungkin (atau bahkan pasti) perlu menerapkan teknik social engineering. Social engineering mungkin terdengar memiliki konotasi negatif di benak sebagian orang tapi teknik ini sering kita lakukan, baik yang disengaja maupun tidak. Intinya, social engineering bisa membawa kita untuk menggapai tujuan tertentu dengan menggunakan teknik/taktik bahasa tertentu.
Pada saat tulisan ini ditulis, saya sudah tidak bekerja sebagai guru sekolah menengah pertama, dan sekarang saya sedang mencari perkerjaan di ranah Data Science. Kondisi ini mengharuskan saya untuk mempersiapkan diri sebagai calon karyawan. Salah satu tahapan dalam rekrutmen karyawan adalah wawancara dengan pihak perusahaan, termasuk wawancara HR dan/atau wawancara user. Saya menyadari bahwa kekurangan saya dalam bidang Data Science masih sangatlah banyak sehingga kecil kemungkinan saya bisa lolos tahap penyaringan CV awal. Namun begitu, saya tetap wajib mempersiapkan segala hal untuk setiap tahapan yang ada atau mungkin ada.
Pada suatu malam ketika saya sedang bermain gim daring, saya bertukar pikiran dengan teman dalam gim. Kami bertukar pikiran tentang pengalaman bekerja. Teman saya bekerja di bidang teknologi dan informasi, lebih tepatnya di bagian perangkat keras jaringan komputer. Awalnya perbincangan kami tidaklah mengacu pada pekerjaan sama sekali, tapi seiring mengalirnya topik pembicaraan, kami pun sampai pada topik pekerjaan ini. Teman saya membagikan pengalamannya tentang kehidupan kerja di perusahaan sekarang. Karena satu dan lain hal, saya tidak akan menceritakan semua detail secara rinci tapi hanya garis besarnya saja.
Singkat cerita, teman gim saya ini merasa perlu pengmebangan diri profesional yang lebih tinggi lagi. Ia memang memiliki semangat belajar yang tinggi. Saya mengaguminya. Di saat yang bersamaan, saya juga sedang mencari peluang untuk berkembang lebih jauh lagi. Kami memiliki tujuan dan arah yang sama. Oleh karena itu, kami mencoba untuk latihan rekrutmen kerja, spesifiknya di bagian wawancara dengan HR.
Saya celetuk mencoba menjawab salah satu pertanyaan klasik yang biasa ditanyakan pada saat wawancara HR, “Saya merasa tempat kerja saya sebelumnya sudah tidak bisa lagi memberikan peluang pengembangan diri baik secara personal maupun profesional. Atasan saya juga merekeomendasikan saya untuk mencari peluang yang lebih banyak lagi. Saya sudah melakukan riset terhadap profil perusahaan bapak/ibu dan saya merasa saya bisa ikut berkembang baik secara personal maupun profesional di perusahaan ini.”
Ketika saya meminta pendapatnya, teman saya dengan nada yang kasual memberikan masukan, “Jangan”, yang mana pada saat itu juga langsung saya balas, “Oke”. Teman saya kemudian menjelaskan kenapa kalimat yang saya gunakan bisa menjadi pedang bermata dua yang akhirnya justru mengiris tangan saya sendiri. Singkatnya, penggunaan kata ganti orang pertama dengan frekuensi yang banyak bisa menimbulkan persepsi negatif dari sisi pewawancara. Hal ini disebabkan lantaran kata ganti orang pertama “Saya” dinilai memancarkan kesan egois. Logikanya, ketika kita terjun di dunia kerja, kita pasti bekerja tidak sendirian. Pasti ditemani orang lain atau bekerja sama dengan orang lain. Oleh karena itu, ketika kita menggunakan “Saya” berlebihan ketika menjawab pertanyaan (spesifiknya, pertanyaan tentang pengalaman kerja) memunculkan kesan negatif di mata staff HR. Implikasinya, staff HR akan mengira bahwa kita adalah orang egois yang tidak bisa bekerja sama dengan tim.
Keesokan hari nya, saya mendiskusikan hal yang sama dengan ayah saya. Saya bercerita bahwa saya telah bertukar pikiran dengan teman di dalam sebuah gim tentang wawancara HR. Ayah saya mengonfirmasi bahwa penggunaan kata ganti orang pertama yang berlebihan bisa menimbulkan efek negatif yang tidak diinginkan. Kami pun berdiskusi tentang bagaimana taktik yang tepat untuk mengatasi masalah ini. Walau tidak berinteraksi secara langsung, teman saya dalam gim dan ayah saya sepakat bahwa masalah ini adalah masalah tentang “mendiskreditkan kontribusi kolega kerja”. Keduanya juga sepakat bahwa masalah ini bisa diselesaikan dengan menyertakan kontribusi kolega. Singkatnya, alih-alih hanya “Saya”, gunakan “Saya dan tim …“.
Dari hal ini saya belajar lagi satu hal bahwa cara kita berkomunikasi dan cara kita merangkai kata-kata bisa menumbulkan efek dan implikasi yang sangat signifikan. Salah sedikit (walau kita tidak sadar) akan menimbulkan efek yang mungkin di luar dugaan. Bisa efek negatif ataupun positif.
Dari hasil diskusi ini, saya jadi teringat sebuah kerangka teoretis dalam ranah Critical Discourse Analysis (CDA) yang pernah saya pelajari semasa studi sarjana. Kerangka ini kurang lebih berbunyi:
- Emphasize our good and de-emphasize other’s good.
- Emphasize other’s bad and de-emphasize our bad.
Model teoretis ini dikembangkan oleh van Dijk (2011) dan akrab dikenal sebagai Ideological Square Framework.
Here are some more articles you might like to read next: